Nasi Berkat
NASI BERKAT
Ayah pulang,
Menenteng sebuah bungkusan daun pisang
Juga sebuah harapan untuk mengisi perut kosong
Sudah cukup lama kami menunggu
Dan kini saatnya menyerbu
Ibu menjadi hakim yang mengetuk palu
Membagi rata keadilan dengan seksama
Kami berenam, melahap dengan nikmat berkah Tuhan
Dalam diam, ayah menyaksikan
Sesekali ia menyeka sudut mata
Kutahu hatinya tidak baik-baik saja,
Tapi aku bisa apa, ini takdir bukan?
Nasi berkat menjadi penyelamat
Dari amukan cacing yang semakin garang
Nyenyak akhirnya bertandang, meski hanya untuk malam ini
Agar nasi di perut tak cepat hilang
Sehingga tenaga datang berkawan
Dan menaklukkan 12 jam untuk esok yang menantang
Comments
Post a Comment